Jumat, 20 Desember 2013

PROMO srugal-srugul T-Shirt


Srugal-Srugul T-Shirt

puji syukur alhamdulillah yang telah menganugerahkan sebuah akal kepada manusia. karena dengan kemampuan berfikir itulah semua kreativitas, semua keinginan, serta semua hal yang ingin terus berkembang bisa tercurahkan melalui ide-ide yang terus mengalir tanpa henti. dengan itu kami selaku "Distroe Wong Brebes Community" membuat srugal-srugul T-Shirt, karena dengan inilah kami menuangkan semua ide-ide yang terus terlahir dari hati yang nantinya akan menjadi sebuah ciri khas bagi kami. oleh karena itu, kami mencoba mengaplikasikannya dalam bentuk t-shirt, untuk mengenalkan ciri khas dari kota Brebes. supaya nantinya kota ini yang sekarang terkenal dengan "ndog asin" nya bisa lebih dikenal secara luas. dan inilah hasil dari ide-ide kami yang mencoba untuk mengenalkan kota Brebes.



type : AB 22 / harga : 45.000,-


type : AB 12 / harga : 45.000,-


type : ABY 09 / harga : 45.000,-


type : NA 10 /harga : 50.000,-


type : Couple NFB 22 / harga : 125.000,-


jika anda berminta bisa langsung datang ke Distro kami yang berada di alun-alun Brebes,
serta kami juga menerima pembelian melalui on-line dengan mengunjungi website: http://pepujaneromo.blogspot.com/
atau bisa melalui via sms : 085741448663 (mas bayy)
NB: untuk pemesanan lebih dari 12 kaos gratis 2 kaos. dan untuk akhir tahun kami akan memberikan harga serta dorprize yang fantastic...

Read More ->>

Rabu, 12 Juni 2013

Read More ->>
Read More ->>

Konversi Agama



I.                   Pendahuluan
      Manusia hidup didunia tidak lepas dari masalah kehidupan. Ada yang bahagia, maupun menderita, dan ada yang miskin dan adapula yang kaya. Dari perbedaan masalah tersebut terkadang menyebabkan seseorang mengalami kegoncangan batin, bahkan terkadang merasa putus asa. Untk itu manusia akan mencoba atau berusaha untuk mencari pegangan atau ide baru, dimana disitu dia bisa merasakan ketenangan jiwa.
      Jika kalian membayangkan bahwa kalian terasing dengan orang-orang disekitar kalian, mungkin kalian bisa mengalihkannya dengan menyibukkan diri. Tetapi bagaimana jika kalian terasing dengan diri kalian sendiri? Degradasi moral sering terjadi karena manusia tidak mampu mengatasi penyakit jiwa manusia modern ibi. Narkotika, seks bebas, bahkan bunuh diri sering menjadi pelarian. Hidup tampaknya memjadi tidak berarti lagi. Mereka yang tertolong atau segera menemukan pencerahan dari kelemahan jiwa ini akan bangkit dan memeluk suatu keyakinan yang baru. Suatu keyakinan yang akan membuat hidupnya terasa lebih berarti, hidup yang bertujuan, yaitu kembali kepada Tuhannya. Terjadilah pembalikan arah, atau konversi. Dalam bahasa agama disebut pertaubatan (taubat, metanoia).
II.                Rumusan Masalah
a.       Pengertian Konversi Agama.
b.      Proses Konversi Agama.
c.       Faktor-faktor yang menyebabkan Konversi Agama.
d.      Contoh Konversi Agama.

III.             Pembahasan
A.    Pengertian Konversi Agama
            Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata latin Conversio, yang berarti tobat, pindah, berubah (agama). Selanjutrnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama kr agama lain (change from one state, or from one religion to another).
Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama(menjadi paderi).[1]  
            Pengertian konversi agama menurut terminology, pengertian ini akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli tentang pengertian konversi agama, antara lain:
a.       Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau prilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
b.      William James mengatakan konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada.
Konversi agama yang dimaksudkan memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri:
·         Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
·         Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan secara berproses atau secara mendadak.
·         Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tetapi juga termasuk perubahan pendangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
·         Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.
c.       Clark menganggap konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.


B.     Faktor-Faktor yang Menyebabkan Konversi Agama
Berbagai para ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi:
1.      Menurut para ahli agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konvensi agama adalah Petunjuk Ilahi. Karena pengaruh supranatural berperanan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.
2.      Sedangkan para ahli sosiologi berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh social. Pengaruh social yang mendorong terjadinya konversi itu sendiri terdiri dari adanya berbagai faktor, antara lain:
a.       Pengaruh hubungan antar pribadi, baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang kebudayaan yang lain).
b.      Pengaruh kebiasaan yang rutin.
Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jika dilakukan secara rutin hingga terbiasa, misalnya: menghadiri upacaea keagamaan ataupun pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan, baik pada lembaga formal ataupun nonformal.
c.       Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat, misalnya: keluarga, karib, family dan sebagainya.
d.      Pengaruh dari pemimpin keagamaan.
Perlu adanya hubungan yang baik dengan pemimpin agama. Karena hal ini merupakan salah satu faktor pendorong konversi agama.
e.       Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi.
f.       Pengaruh kekuasaan pemimpin.
Pada umumnya, masyarakat cenderung menganut agama yang dianut oleh Kepala Negara atau Raja mereka.
3.      Para  ahli psikologi berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern.

a.       Faktor intern yang mempengaruhi konversi agama adalah:
·         Kepribadian. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Menurut penelitian W. James bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.
·         Menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak tengah biasanya lebih bimbang dalam menentukan agama dibandingkan dengan anak sulung atau anak bungsu.
b.      Faktor ekstern, diantaranya adalah:
·         Faktor keluarga, keretakan keluarga, ketidak serasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapat pengakuan kaum kerabat, dan lainya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin. 
·         Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari lingkungannya akan merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan ini menyebabkan seseorang mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahann batinnya hilang. 
·         Perubahan status yang berlangsung secara mendadak. Misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama. 
·         Kemiskinan. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi terjadinya konversi agama.
William James menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa terjadinya konversi agama karena[2]:
a.       Adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
b.      Konversi agama dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak (tanpa suatu proses).
Berdasarkan kesimpulan ini William James, Starbuck membagi konversi agama menjadi 2 tipe:
a.       Tipe Volational (Perubahan bertahap)
Perubahan agama tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.
b.      Tipe Self-Surrender (Perubahan Drastis)
Konversi tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan inipun dapat terjadi dari kondisi yang tidak taat menjadi lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu agama kemudian menjadi percaya dan sebagainya. Pada konversi tipe kedua ini menurut William James adanya pengaruh petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri sefseorang sehingga ia menerima kondisi yang bru dengan pnyerahan jiwa sepenuh-penuhnya.
Faktor – faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian, secara psikologi kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tentram. (Jalaluddin, 2008: 314-317)
4.      Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konvesi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Berdirinya sekolah –sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.
Menurut Zakiyah Daradjat, Faktor-Faktor yang mempengaruhi konversi agama adalah:[3]
1.      Pertentangan batin ( konflik jiwa ) 
2.      Pengaruh hubungan dengan tradisi agama. Ajakan / seruan dan sugesti.
3.      Faktor – faktor emosi.
4.      Kemauan.
C.     Proses Konversi Agama
            Konversi Agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi Agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung. Demikian pula seseorang yang mengalami proses konversi agama ini. segala bentuk kehidupan bathinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya (agama), maka setelah terjadi konversi agama pada dirinya secara spontan pula lama ditinggalkan sama sekali.
            Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu memilih pandangan hidup yang baru. Pandangan hidup yang dipilih tersebut merupakan petaruh bagi masa depannya. Sehingga ia merupakan pegangan baru dalam hidupnya.
            Menurut M.T.L Penido berpendapat, bahwa konversi agama mngandung unsur: 
1.      Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dari pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seioring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih. 
2.      Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran, mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan pnyelesaian oleh yang bersangkutan.
Kerangka proses konversi agama dikemukakan oleh[4]:
a.        H. Carrier, membagi proses tersebut dalam pentahapan sebagai berikut:
1.      terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat darikisis yang dialami. 
2.      Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru, maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama. 
3.      Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya. 
4.       Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
b.       Dr. Zakiah DaradjatMemberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu: 
1.      Masa tenang. Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang, karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. Dimana segala sikap, tingkah laku, dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama. 
2.      Masa ketidaktenangan. Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya. Dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini menimbulkan keguncangan dalam kehidupan batinnya, sehingga mengakibatkan kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa dan bimbang. konflik jiwa yang berat itu menyebabkan orang lebih sensitif (mudah perasa, cepat tersinggung dan mudah kena sugesti). Pada tahap ini terjadi proses pemilihan terhadap kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya. 
3.      Masa konversi. Masa ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan batin dalam menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk illahi. 
4.      Masa tenang dan tentram. Masa tenang dan tentram ditimbulkan oleh kepuasaan terhadap keputusan yang diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru. 
5.      Masa ekspresi konversi. Pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama[5]. Itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya perubahan keyakinan tersebut.
Proses terjadinya konversi agama, dalam masyarakat mengambil beberapa macam bentuk: 
1.      Perubahan yang drastis. Adalah proses konversi agama dari tidak taat menjadi taat, yang jangka waktunya cepat, karena ada masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh individu, yang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman individu sebelumnya. 
2.      Pengaruh Lingkungan. Pengaruh lingkungan mempengaruhi sikap dan cara pandang terhadap keyakinan suatu agama. 
3.      Pengaruh idealisme yang dicari. Proses ini, biasanya memakan waktu lama. Individu selalu merasa dalam keyakinn yang meragukan. Tetapi jika, ada bukti yang bisa meyakinkannya, maka, dia akan yakin sepenuhnya.
D.     Contoh Konversi Agama
1.      Diceritakan oleh Drs. Efendi Zarkasi tentang seorang pemuda Tionghoa yang tinggal di Keramat Jati masuk islam. Waktu ditanya pak Efendi mengapa ia masuk islam, ia menjawab karena didekat rumahnya ada masjid. Ia tertarik karena suatu hari menjelang shubuh, bedug dimasjid itu dibunyikan. Jadi ia tertarik masuk islam karena mendengar bunyi bedug.
2.      Dr. Abdul Karim Germanus, seorang orientalis, mempelajari islam sejak menjelang usia aqil baligh. Masalahnya dia membuka-buka lembaran majalah bergambar terbitan lama, berbagai kejadian baru, cerita fiktif dari beberapa negeri jauh. Ia membolak-balik perhalaman tanpa perhatian serius. Tetapi tiba-tiba matanya tertumbuk pada ukiran kayu berbentuk rumah beratap datar dan diberbagai sudut diselang-selingi kubah-kubah bundar menjulang langit yang gelap gulita, dimana secercah cahaya bulan terbit tampak indahnya. Terlihat disalah satu atap itu beberapa orang duduk berbaris dengan rap dan teratur serta memakai pakaian yang indah coraknya. Kejadian inilah yang menyebabkan Abdul Karim Germanus mempelajari islam dengan lebih diat dan akhir orientalisnya dia masuk islam. Jadi ini termasuk dakwah bukan lantaran ceramah atau pidato, melainkan melalui kekaguman terhadap hasil seni lukis.
3.      Saul (St. Paulus)[6], seorang penganut Yahudi ortodoks dan fanatic, aktif melakukan pembantaian orang-orang Kristen. Dia pergi dari Jerusalem menuju Damaskus mengemban tugas dari pemimpin agamanya untuk menawan orang-orang Kristen disitu. Dalam perjalanannya, dia melihat secercah cahaya terang dan mendengar suara yang jelas dari Jesus Kristus, yang mempermasalahkannya karena melakukan tindakan kejam dan menyuruhnya ke Damaskus seperti yang diperintahkan pemimpinnya. Namun Saul akhirnya buta dan selang beberapa hari ada seorang lelaki datang kepadanya dan memberitahu bahwa dia akan bisa melihat kembali yang kemudian akan diisi dengan Ruh Kudus. Ketika Saul sembuh dan menjalani pembaptisan,dia mulai berkhutbah disinagog-sinagog (tempat peribadatan Yahudi) bahwa Jesus adalah anak Allah.

IV.             Kesimpulan
      Konversi agama adalah proses berpindahnya keyakinan seseorang dari yang lama kepada kepercayaan yang baru. Ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
  1. Faktor intern
·         Kepribadian
·         pembawaan
    1. Faktor ekstern
·         Keluarga
·         Lingkungan
·         Perubahan status
·         Kemiskinan
Dalam proses terjadinya  konversi agama terdapat 5 tahap, antara lain:
1.      Masa tenang
2.      Masa ketidaktenang
3.      Masa konversi
4.      Masa tenang dan tentram
5.      Masa ekspresi konversi

V.         Penutup
      Demikianlah makalah ini dibuat, karena keterbatasan sarana yang ada, semoga makalah ini bermanfa’at. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam pembahasan makalah ini, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang membangun makalah ini agar menjadi lebih baik.

           



                                              Daftar Pustaka
Jalaluddin, Dr, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996
Daradjat, Prof. Dr. Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1989
Thouless, Robert. H., Pengantar Psikologi Agama, terj. Machnun Husein, Rajawali, Jakarta, 1992




                [1]  Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, hal: 245-246
                [3] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta
                [4] Dr. Jalaluddin, Psikologi Agama, hal: 254
                [5] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama.
                [6] Robert H. Thouless, Pengantar Psikologi Agama, hal: 189-190 
Read More ->>

Selasa, 11 Juni 2013

Diberdayakan oleh Blogger.